2009-11-06

New Official Merchandise Session 2

New Official Merchandise Session 2 has landed

Pada produksi pertama season ini akan ada 2 disain kaos dan 3 disain tas. detail status ketersediaan barang (stok) dan cara pembelian kami cantumkan di caption masing2 foto. sipsip. selamat berbelanja :) and thankyou very much for making the choice to support us. :)










TEES JENNY X BLUR

HARGA: Rp. 70.000,-
KODE ARTIKEL: TEES-BLUR-WHITE
STOK: 7 nov 2009 - SOLD OUT (STOK SEMENTARA HABIS, SEDANG DI PRODUKSI LAGI).





















TEES JENNY X KISS

HARGA: Rp. 70.000,-
KODE ARTIKEL: TEES-KISS-BLACK
STOK: 7 nov 2009 - size S: 6 buah, size M: 2 buah, size L: 2 buah (DAN SEDANG DITAMBAH STOKNYA/ SEDANG DIPRODUKSI LAGI).

























BAG JENNY X BLUR

HARGA: Rp. 55.000,
KODE ARTIKEL: BAG-BLUR-WHITE
material kanvas tweel, image 3 warna, ukuran tas 36x45cm, 1 kancing (bukan zipper), panjang tali +/- 68 cm
STOK: READY STOK



















BAG JENNY X KISS

HARGA: Rp. 55.000,-KODE ARTIKEL: BAG-KISS-BLACK
material kanvas tweel, image 2 warna, ukuran tas 36x45cm, 1 kancing (bukan zipper), panjang tali +/- 68 cm
STOK: READY STOK





















BAG TARGET WHITE

HARGA: Rp. 55.000,-
KODE ARTIKEL: BAG-TARGET-WHITE
material kanvas tweel, image 1 warna, ukuran tas 36x45cm, 1 kancing (bukan zipper), panjang tali +/- 68 cm
STOK: READY STOK













TERM AND CONDITION PEMESANAN ONLINE



1.jenny akan memposting item merchandise resmi dari jenny yg akan dijual, melalui facebook atau blogs
pot dalam bentuk foto produk lengkap dengan keterangan status ketersediaan stok,
ukuran,
warna, dan harga.

2. setiap item akan ada kode produk untuk memudahkan pemesanan.
contoh:
A. T-shirt dengan artikel image blur ukuran M warna putih akan di kode TEES-BLUR-WHITE-M
B. Tas kanvas dengan artikel image kiss warna hitam akan dikode BAGS-KISS-BLACK

3. kami menyediakan 1 nomor online untuk menerima konfirmasi pemesanan product via SMS yaitu pada nomor: 08174111294

4. Kami menyediakan 2 sistem pembayaran yaitu CASH ON DELIVERY (tunai melalui kurir, *dalam kota jogja) atau melalui TRANSFER ke rekening MANDIRI atau BCA

5. pemesan yang ingin melakukan pembelian, memberikan sms konfirmasi pemesanan ke nomor diatas dengan format: NAMA LENGKAP/ ALAMAT PENGIRIMAN BARANG/ KODE PRODUK YG DIPESAN/ JUMLAH ITEM YG DIPESAN/ SISTEM PEMBAYARAN
contoh:
A. RONI GUNAWAN/ JL. PAHLAWAN 05 SURABAYA 56254/ TEES-BLUR-WHITE-S/ 1/ TRANSFER BCA
B. KARTIKA/ JL.KALIURANG KM 8 NO 17 YOGYAKARTA 55121/ BAGS-KISS-BLACK/ 1/ CASH ON DELIVERY

Untuk pemesanan 2 atau lebih produk yang berbeda, pada sms pemesanan kode produk ditulis berurutan
contoh:
PUTRI RAHAYU/ JL.GEJAYAN 40 JOGJAKARTA 55123/ TEES-BLUR-WHITE-S/ 1/ BAGS-KISS-BLACK/ 2/ TRANSFER MANDIRI

6. Kami akan memberikan balasan sms untuk memberikan informasi tentang sistem pembayaran dan pengiriman produk.


7. Penulisan alamat diusahakan selengkap mungkin untuk menghindari kesalahan pengiriman

8. Pengiriman via pos kami menggunakan jasa POS EXPRESS INDONESIA dengan tarif resmi POS INDONESIA. Pengiriman via kurir dalam kota jogja (CASH ON DELIVERY) kami kenakan biaya tambahan sejumlah Rp.5000,00

9. Pembayaran dilakukan setelah kami memberikan konfirmasi kalau produk sudah siap kirim. setelah anda menerima sms konfirmasi tsb, pembayaran via transfer maksimal 2x24 jam setelah sms pemesanan, diluar waktu itu order pembelian kami anggap hangus.

10. Untuk memudahkan sistem administrasi kami hanya melayani pemesanan online melalui sms/ telfon ke nomor online kami. Sedangkan pesanan melalui facebook (wall comment, messages dll) belum dapat kami layani.

11. kami juga melayani pembelian offline di venue pertunjukkan dan kantor management kami dan beberapa outlet.

11. Thank you very much for making the choice to support us by purchasing our merchandise.


Best Regards,
Jenny Merchandise Management
JL. Kinanthi gang gambang no.08 condong catur, depok, sleman, Yogyakarta
08174111294

Lirik demi Lirik Album Manifesto


Lirik demi Lirik Album Manifesto


Mati muda . Monster Karaoke .MahaOke . Manifesto Postmodernisme .Menangisi akhir pekan . The Only Way . 120 . Resistance is Futile . Look With Whom I'm Talking To . Dance Song


MATI MUDA

berbaris baris dan bersiaplah
bersiap siap siapkan jawaban
sambutlah sambut sebuah istilah universal
untuk akhiran
nyala takkan terlalu lama
padam akan datang lebih segera
jika harus jadi maka jadilah
jika harus mati maka matilah
semoga matimu matimuda
semoga matiku matimuda
hidup tak perlu terlalu lama
jika dosa yang berkuasa
jika harus mati maka matilah
jika harus kini maka sekaranglah

MONSTER KARAOKE

menjelang enam
selepas lima petang
sepanjang rute pulang
dan sisa energi
menjelang enam
mesin dan angin
jadi suara latar
gerak pemandangan ikut melengkapi
menjelang enam
aku pulang

teman bermain diperankan oleh perangkat digital
playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa
berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
oowh.. no..nooo, oowh.. no..nooo
soraki laju lagu tangisi melodi
rayakan apa saja hari ini
monster karaoke, monster karaoke
soraki laju lagu tangisi melodi (4x)

monster karaoke (4x)
menjelang enam aku pulang menjelang enam
menjelang enam aku pulang menjelang enam
aku pulang..


MAHAOKE

dia yang maha oke
maha menguasai
dalam kendali penuh
atasmu dan atasku

dia yang maha oke
dan yang maha pasti
terpantas dikagumi
wow.. u wow

segala dibawah matahari
dan diatas galaksi
dibawah ruang dan waktu
dan sgala ada padamu
pagi indah cerah yeng engkau nanti
dan sore redup tenang yang kau nikmati
sedikit dari banyak yang maha oke beri

mahaoke ma.. maha oke (4x)
mahaoke
mahaoke ma.. maha oke (3x)
dialah satu satunya... maahaokee

dia yang maha oke
dan maha memiliki
dalam hak milik penuh
atasmu dan atasku

dia yang maha oke
dan yang maha pasti
terpantas dikagumi
wow.. u wow

mahaoke ma.. maha oke (4x)
mahaoke
mahaoke ma.. maha oke (3x)
dialah satu satunya... maahaokee


MANIFESTO POSTMODERNISME

sebuah manifesto
nyalakan postmodernisme
bungkam para arogan
terjang para ideal

sgalanya sudah di temukan
semuanya telah didefinisikan
ais sisanya ditanah
susun lagi dengan tanganmu

tak ada lagi kebaruan
semua kata pernah dikalimatkan
pilih sisanya di udara
ucapkan lagi di mulutmu

tak ada yang baru
dibawah matahari

manifesto postmodernism (8x)

tak ada yang baru
dibawah matahari
katakan sesuatu yang baru
dari dalam isi kepalamu

manifesto postmodernism (16x)



MENANGISI AKHIR PEKAN

hingar bingar hampa
dalam tempo yang semakin melambat
sepekan tertukar dengan lari paksa rutinitas

satu terakhir dari tujuh
saatnya tanggalkan baju perangku
sandarkan tubuh lelah lemah lelah sandarkan dulu

permintaan dan pemenuhan
terangkai dalam sebuah rantai makanan
sepekan termakan dalam rantai makanan itu

satu paling ujung dari tujuh
saatnya tumpahkan keluh kesahku
bingarkan panggung rendah luas terang tanpa barikade

teman dan pencerita
panggung dan pertunjukan
cairan dan pendosa
rayakan dengan
asap di hela napas
jalan dan pencarian jawaban
ingatan dan penyesalan
tangisi akhir pekanmu

satu yang terakhir dari tujuh
saatnya tanggalkan baju perangku
saatnya sandarkan tubuh lelahku
saatnya tumpahkan keluh kesahku
saatnya bingarkan panggungku

tangisilah
rayakanlah


THE ONLY WAY

I never see again some preety eyes
Since the last time I saw your eyes
I never kissed again some sweet lips
Since the last time i kissed your lips
Go go go, go go go
Things so fine before yo go
No no no, no no no
Did I want it that way, well the answer is no

The good old days has ended someway
Is not easy but this the only way
I never knew I’m so lucky to have you
Until the day I’ve lost you
Paralel life I’ll see you soon

Paralel life I’ll see you soon

The good old days, allright..
Is not easy, Is not easy
I never knew I’m so lucky to have you
Until the day I’ve lost you
Paralel life I’ll see you soon


120

tentang benda-benda yang engkau punya
dan engkau banggakan
tentang gaya hidup yang kau kenakan
dan bahkan kini kau tuhankan

tentang kekinian yang selalu saja kau bicarakan
tentang status dan posisi tawarmu
di penglihatan orang-orang

jangan harap itu bisa
mengesankanku dan menjatuhkanku

atas nama dunia yang engkau pikir
telah dan selamanya akan kau genggam...

tentang nama besar yang kau sandang
dan engkau busungkan
tentang seberapa pintar dan cemerlangmu
di penglihatan orang-orang

tentang satu dua tiga peperangan
yang pernah kau menangkan
kalimat menjatuhkan yang jadi sering
engkau ucapkan kau hujamkan

jangan harap itu bias mempercepatmu dan mengejarku..

atas nama dunia yang engkau pikir telah kau punya
atas nama dunia yang engkau kira
telah dan selamanya akan kau genggam

120 sekian
dan masih kan menambah
kecepatan, kecepatan
dan tak akanbisa terkejar

jangan harap itu bisa
mengesankanku dan menjatuhkanku
atas nama dunia yang engkau pikir
telah kau punya
atas nama dunia yang engkau kira
telah dan selamanya akan kau genggam...

120 sekian
dan masih kan menambah kecepatan


RESISTANCE IS FUTILE

all the things we've done
the things i dont want to reminded
but even a little light
bring back all the sight
bring all the sight

well yes im on this time
im on this sentimental time
it never end
it like never end, no..

i shall never cherish you
like I said i shall never forgive you
sometimes
somethings
can changed

even my resistance is futile
i wrote this songs for someone
but dont be afraid to get fun
i wrote this words for somehow


it's could be you but it's not you
it's could be you but it's not you
it's should be you but why it was not you
if you want to dancing why don't you dancing


LOOK WITH WHOM I'M TALKING TO


well i’m burn inside the fire
but feel like I’m drowning into water
look with whom i'm talking to
look with whom i'm talking to

well i dont want you to change your mind
everything is gonna stay the same
now look with who i'm talking to
i'm talking to you

all i wanna, all i wanna
talking to you

its so nice to saw you standing there (in the crowd)
with your foolish dress (dance) youre still looking so fine
you still looking so fine

fire, water, fire, water, fire, water, fire, water,


DANCE SONG

what you see is what you will get
stop thinking too much you better now start your step
what was that? did you say no?
don't you want to go

spent all the cry for another story
hard to say it easy but you could take it easy
what was that? did you say no?
i know you want to go

well you let me in but never let me out
nice to know you darling and ill be right behind you
what was that? Did you say no?
don't you want to go

what you see is what you'll get
stop thinking too much now start your step

you don't have to sing the last song
you don't have to sing it
no worry, i will just alright
you don't have to shout the last word
you don't have to shout it
so please now just go away







album review [MANIFESTO]


Review by MONTHSTER ! zine and catalogue Vol.2

Not Deaf, Hold Ears !
HEARING TO

Ungkapan sebuah statemen kepada publik. Bertajuk manifesto yang menjadi phantasm, menjadi empat pemuda di Yogyakarta yang membungkus ingenuitas mereka di usungan hits-hits mereka. Lick – lick guitar crunchy yang bermelodi dan catchable to play and hear , rapi dan menginspirasi. Bass yang sibuk bercinta dengan beat-beat drum bertenaga, bukan sekedar pelengkap, tapi unsur yang mempercantik, riff-riff yang mengikuti alur. Dan lantunan suara layaknya bermalas-malasan , kerap bercerita dan menyuarakan sebuah rayuan untuk berdansa. Inilah JENNY. Bukan yang lain, ini adalah Jenny. Layaknya hidangan pembuka , mati muda yang bersemangat layaknya anthem , dengan memperdengarkan saja mungkin kalian bisa merasakan antusiasme para teman pencerita dengan teriakan teriakan seperti mengelu-elukan keresahan bahayanya apa itu dosa dan pahala.

“Sebuah manifesto nyalakan postmodernisme bungkam para arogan” , terjang para ideal. Dengan lirik yang sebagian besar berbahasa indonesia akan terdengar lebih pedas dan tajam, meredam emosi dengan pemilihan kata kata yang merepresentasikan sesuatu yang baru di dalam kepala. Di 120 yang untungnya didalam lirik dan maknanya yang tidak terdefinisikan dengan baik, Jenny lagi lagi menyusun abjad dan nada itu kembali menjadi sesuatu yang layak didengarkan secara seksama dan dihayati dalam – dalam.

Dengan acuan lirik lirik meng-aku dan kalian pendengar sebagai orang kedua, Jenny mengemas album ini dengan baik. Hitam putih, sederhana dan sekali lagi sangat pantas untuk kalian miliki dan menominasikannya ke dalam playlist mp3 kalian. Album ini adalah ajakan,album ini berniat menjadi sebuah suntikan dalam pola pikir baru. Apakah kalian akan berusia pendek atau kalian sibuk berdansa sambil sedikit memikirkan tarif idealisme kalian. Menghentakkan kaki dan berniat untuk merubah alkohol favorit kalian, atau bahkan protes ke pacar kalian dengan menyanyikamn look with who I’m taking to. Itupun kalau kalian punya pacar. Sedikit cerita tentang album launching maret lalu, kings of leon, The strokes, The Ramones ada di dalam kamus musik mereka. Jangan menebak seperti apa lagu-lagiu mereka..karena mereka Jenny. Karena mereka adalah sebuah mega epic danceable that will rocks your ear and blow your brain . [Aree dharma ]

Thanks for your appreciate, MONTHSTER zine and Catalogue .

Hit The Road Vol. 1 Surabaya | May 25th , 2009

Hit The Road Vol. 1 | May 25th , 2009
MOOF STORE || Aiola, Surabaya

#DAB Vol. 9 , April- Mei 2009

Band-band Jogja menyerbu Surabaya dalam acara yang diprakarsai oleh Moof, clothing asal Jogja. Acara ini juga menyatukan pelaku clothing dua kota tersebut. Polka Polizei, langsung membuka panggung malam itu. Dilanjutkan Terbujur Kaku , one man project bernuansa mashcore, dan breakcore, yang beraksi dengan Cangkang Serigala. Nervous yang enggan membiarkan kesunyian pada saat jeda pergantian, menggebrak dengan hits hits noise rock . The others, band post rock Surabaya mengisi panggung selepas Nervous. Jenny naik panggung dan langsung memanaskan vebue dengan musik yang anthemic. The Nobodies, band postpunk Surabaya menutup dengan klimaks. Ini menjadi bukti nyata bahasa musik berhasil menyatukan dua wilayah yang berbeda.




#Playbook July 09 Issu #3

Di penghujung bulan Mei, sekelompok anak muda menggelar perjamuan di pelataran Ailoa Store setelah sekian lama Surabaya tidak menggelar sharing gig antar propinsi. Kali ini Others, Nobodies, Polka Polizei dan Terbujur Kaku menjamu Jenny, Savior, Nervous, Cangkang Srigala. Sebuah mixtape kelas satu yang terwujud nyata. Dibuka denhgan teriakan liar dari Ican dan Phleg, dari Cangkang Srigala dan Terbujur kaku

Polka Polizi mengawali dengan “oliver”, begitu kencang begitu dasyat, sebuah appetizer yang menggairahkan !! Band berikutnya , Savior tampil dengan intro yang toksik ada aroma metalica disini dicampur keliaran New York Garage. Sesi berikutnya bergulir ke atraksi musik paling edan yaitu Terbujur kaku, menggeber track –track remix ala breakcore dari lagu-lagu “Baby hit Me one More Time” sampai Vierra yang “dengarkan curhatku”. Dilanjutkan sesi Cangkang Serigala, Death Metal midi karaoke yang mana si Ican dan Oka menggunakan laptop Phleg Terbujur Kaku sebagai imannya, sehingga terjadilah pergumulan antara Terbujur Kaku dan Cangkang Serigala. Nervous kemudian melanjutkan dengan track instrumental yang sedikit mengingatkan saya pada era no wave New York 90-an. Bergulir ke garda depan post lokal , Others, yang membuat saya seakan lari tanpa beranjak darimana pun. Jenny pun akhirnya tampil setelah sehari dijamu wawancara disebuah stasiun radio lokal, dan memulai agresi dengan lagu-lagu LP terbaru mereka manifesto.

Hujan gerimis sempat membuat panik panitia . Ditengah gambling antara melanjutkan acara atau tidak , Ican dengan ganasnya meracau sambil mengitari venue , menambah keliaran malam itu. Acara akhirnya diteruskan ke talent berikutnya yaitu The Nobodies. By far, ini adalah the best exchange gig yang pernah saya hadiri. A wild wild night !!! [S.A Jammal]


More articles

1. posted by S.A Jammal in multiply.com

2. Photo by Denan in his awesome gigs photoblog


Thanks for this review ;)

JENNY’s DEBUT RECORD "MANIFESTO" | MARCH 12th 2009 |


MANIFESTO SHOWCASE

Jogja national Museum, Gamping


1. #DAB Vol. 9 , April- Mei 2009#

Gelar karya rekaman perdana Jenny tentu amat dinantikan para localholic. JNM yang jadi saksi bisu acara ini dihiasi oleh instalasi berbagai kardus yang cukup menarik. Marina del Ray yang membuka perayaan itu ber-singalong lewat "20th Century Boy. Frau, si solo pianis menyusul dengan "Mesin Penenun Hujan" yang manis. Ketika layar memuat visual pembuka, Jenny mulai menyapa lewat "Resistance is Futile" dan lagu itu disambut para audience dengan cukup liar. Usai "Manifesto", pentas dikejutkan "kudeta" panggung Tripping Junkie yang berkolaborasi dengan Farid (voc). Ini lebih dari sekedar pagelaran karya. It's our enactment of a new indie cult in town, and the devotees belong to Jenny . HAIL !!!



.::::::Thankz to Dab magazine for this review :::::.


2. Review By Gading Narendra Paksi

"Inilah yang kami tunggu-tunggu sejak kami terbentuk 6 tahun yang lalu !!!",itulah kalimat emosional yang dilontarkan oleh Farid Stevy Asta vokalis Jenny saat acara Showcase Jenny "Manifesto" hari Kamis (12/03) lalu di Jogja National Museum, Yogyakarta.

Malam itu Farid memang terlihat sangat emosional. Dia bernyanyi mengeluarkan segenap suara hatinya, menari-nari dengan atraktif, memeluk teman-teman band-nya, crew yang membantu, dan teman-teman dekatnya yang hadir pada malam itu. Ia menjadi seorang dirigen yang memberi komando pada penonton untuk larut dalam orkestrasi emosi kebahagiaan yang dirasakannya. Malam itu Farid pantas berbahagia. Seperti yang telah diungkapkan, akhirnya setelah 6 tahun terbentuk Jenny dapat meluncurkan album pertamanya berjudul "Manifesto".

Kurang lebih pada pukul 19.30, Marina Del Rey naik panggung untuk membuka acara. Walaupun tampil minus pemain bass mereka ( karena terlambat datang ), dua lagu dari mereka cukup untuk memanaskan suasana. Disusul kemudian dengan penampilan solo piano yang memukau oleh Frau, pianis/keyboardis berbakat dari Yogyakarta. Dbawah sorotan lampu yang diatur soft, Frau memukau penonton dengan lagu-lagu berirama swing yang dinyanyikannya sembari memperdaya tuts-tuts keyboard dihadapannya.

Jenny naik panggung kurang lebih pukul 20.30. Kali ini Jenny memberikan tema yang cukup unik dalam pertunjukannya. Mereka memasang dua buah screen di kanan-kiri panggung dan menampilkan video-video testimoni dan video-video ilustrasi yang mengantikan peran seorang pembawa acara dan sekaligus sebuah pengantar mengenai filosofi lagu yang akan mereka bawakan. Salah satu yang menarik adalah video ilustrasi yang mejadi pengantar saat akan membawakan lagu “Maha Oke”. Mereka menampilkan video ilustrasi yang berisi tentang orang-orang yang diceritakan sebagai “pengkhianat” Tuhan ( direpresentasikan melalui 3 orang yang berdandan seperti pocong, penganut black metal dan aliran sesat ) dan kemudian “bertaubat” ( direpresentasikan dengan adegan 3 orang tersebut berganti pakaian muslim dan membaca Ayat-Ayat suci Al-Quran bersama-sama ). Jenny sendiri tampil maksimal. Dibalut pakaian hitam-hitam, mereka menghantam Jogja National Museum dengan musik-musik beraroma garage racikan sendiri. Siraman lighting yang menawan menambah keindahan visual panggung pada malam itu. Membuat Jenny terlihat layaknya rockstar yang siap memuaskan dahaga para penggemarnya. Farid terlihat sangat liar, berteriak menyuarakan vokal terbaiknya. Aksi panggungnya yang sangat atraktif dan komunikatif tidak mengurangi konsistensi suaranya. Ia jga menjalankan tugasnya sebagai seorang front man yang berwibawa kepada penonton. Roby Setiawan menyiksa gitarnya habis-habisan, mengekspolitasi kemampuan terbaiknya membangun harmoni musik Jenny. Malam itu roh Albert Hammond Jr. Merasuk kedalam jiwanya. Sementara Arjuna Bangsawan ( bass ) dan Anish Setiadji ( drum ) yang bertindak sebagai pengawal seksi ritem menjalankan tugasnya bagai komplotan pembunuh berdarah dingin. Tanpa banyak bicara mereka membangun bottom line dengan eksekusi sempurna.

Di tengah pertunjukan Tripping Jungkie sempat menyelundup unjuk kemampuan diatas panggung, ditemani oleh Farid yang mendadak naik ke atas panggung dan menjadi vokalis kedua, sebelum Jenny naik panggung lagi dan akhirnya menyudahi pertunjukan dengan single andalan mereka, “Mati Muda”, yang menciptakan sebuah karaoke massal diantara penonton. Mengkhiri sebuah pertunjukan menawan yang menjadi sebuah pembuktian eksistensi mereka di kancah permusikan Jogjakarta.

Jenny sendiri adalah sebuah band yang memiliki posisi yang cukup menarik di kancah permusikan Jogja. Kadang mereka bisa terlihat sangat mainstream saat tampil di pentas-pentas seni SMA, tetapi kadang juga dapat terlihat sangat gahar saat tampil pada event-event cutting edge seperti di Kinoki Jogja misalnya. Jenny seolah menjadi mediator antara berbagai jenis penikmat musik di Jogja. Yang kemudian terjadi adalah pertemuan berbagai jenis penikmat musik seperti saat di JNM kemarin, penonton yang datang berasal dari berbagai kalangan. Disana terlihat anak-anak berbusana celana ketat, piercing dan tatto bertebaran,dan kaos-kaos band "aneh", tetapi juga datang anak-anak bertampang "imut" berjaket fullprint lucu-lucu,merokok malu-malu dan besoknya masih harus sekolah. Jenny mempersatukan mereka. Ditengah atmosfer pengkotak-kotakan jenis musik yang berujung pada saling cela dan persaingan tidak sehat,Jenny tampil sebagai seorang fasilitator yang menjadi penengah antar komunitas. Menjadi elemen fleksibel yang merangkul semua pihak. Selamat untuk Jenny. Teruslah berjuang di kancah permusikan Jogjakarta. God Bless....

Thanks to gading narendra paksi atas reviewnya ;)

2009-05-27

jenny on PLAYBOOK 2nd edition

playbook

Seperti layaknya mengobrol dengan mbak-mbak kebanyakan, obrolan Playbook dengan mbak Jenny malam itu menyerempet ke urusan mbribak-mbribik. Untungnya kita nggak keterusan ngomongin begituan, soalnya mbak Jenny emang bukan sembarang mbak-mbak, mbak kita yang satu ini ternyata brengosen dan rock and roll abis. Mbak Jenny gitu loh...
Eh, ngelantur ya? Sori,sori.. soalnya wawancara Playbook dengan Jenny waktu itu juga penuh dengan lanturan dan gojek kere sih. Kita aja sampe bingung mau mulai wawancara darimana gara-gara keakehan gojek. Yah, meskipun sebenarnya personil Jenny yang hadir hanya Farid (vokal) dan Roby (gitar) tanpa Anis (drum) dan Simbah (bass), tapi wawancara Playbook dengan Jenny berlangsung sip dan hore. Bahkan kita kewalahan karena mereka banyak omong kayak mbak-mbak (becanda, bro...hehehe).
Band yang tergolong cukup lama memeriahkan kancah musik Jogja ini mungkin sudah kamu kenal lewat pensi-pensi dan berbagai gig indie. Perlahan tapi pasti, dalam rentang enam tahun yang mereka lalui dari pentas ke pentas, Jenny membuktikan kesolidan mereka dalam bermusik. Buah kerja keras mereka adalah 'Manifesto', album pertama yang merekam perjalanan Jenny, tidak hanya secara musikalitas sebagai sebuah band, tapi juga sebagai individu yang bergelut dengan laju kehidupan di era posmoderen dalam wilayah kesadaran tertentu.
Berikut petikan wawancara kami..

Selama enam tahun ngeband, kok baru sekarang ngeluarin album? Kenapa lama sekali?
Farid: Kita nggak bisa lebih cepat, tapi mungkin juga nggak bisa ditunda lagi. Ini kemudian jadi waktu yang optimal buat kami. Optimalnya itu karena, satu, kita berani bilang, kita ngeband itu bener-bener indie. Kita pernah ngerasain yang namanya 'berburu dan meramu' sampai kita bisa seperti sekarang ini. Mulai dari ngeband nggak dibayar, trus dibayar bir, dibayar lima puluh ribu seratus ribu, itu bener-bener yang dikumpulin sampai akhirnya kita punya plot untuk recording. Berarti kan emang butuh proses yang cukup lama. Kita nggak pernah disokong oleh korporasi apapun, justru kitalah yang menghidupi band. Sampe sekarangpun band ini nggak pernah menghidupi personelnya, paling mentok anak-anak make uang Jenny buat makan, logistik. Dari segi konsep, band dan album ini tidak pernah kami rencanakan untuk jadi seperti ini atau itu. Kita nge-band, what you see is what you get, kita olah terus, berproses... sampe akhirnya kita bisa punya lagu sendiri di tahun kedua.

Lagu pertama Jenny sendiri apa?
Farid: Yang pertama Dance Song, dan kemudian itu selalu jadi lagu yang terakhir kalo di panggung. Dulu kalo ditanyain, Jenny musiknya seperti apa, jawabnya kayak Dance Song.
Roby: Hampir enam tahun ya... enam tahun itu bukan karena menunggu atau kita proses rekaman, lagu itu kadang tercipta dalam jangka waktu yang panjang banget.
Farid: Soalnya kita nyari proses membuat lagu yang fit buat kita juga. Dulu sempat yang Roby nggitar, terus aku nyanyi gitu, tapi kok nggak iso... Terus nge-jam di studio, yo iso dadi lagu, tapi dirungokne meneh kok elek.. Kita lagi dapet yang fix-nya dalam proses yang selama enam tahun itu. Jadi antara lagu-lagu yang awal, tengah-tengah, sama yang akhir-akhir itu beda semua prosesnya. Yang Dance Song dan lagu-lagu awal itu rembukannya masih kami berdua (Farid dan Roby), terus yang pertengahan, semua orang mulai ngasih masukan. Yang terakhir ini malah beda lagi, Roby punya komposisi terus dibawa ke studio. Jadi emang trial and error semua, sampe enam tahun itu.

Berarti yang terakhir itu yang jadi formulanya ya?
Farid: Ya, itu lebih pas buat kita. Di album ini ada 10 lagu, 9 lagu itu sudah dimainkan semua di panggung sebelum kita rilis, cuma satu yang belum dimainin live, 120. Jadi yang sembilan itu yang bener-bener nemenin kita berproses.
Roby: Sebenernya kalo diitung-itung mungkin ada sekitar dua puluhan lagu. Tapi ga semuanya cocok. Prosesnya emang beda kali ya, karena kami juga bukan orang yang bener-bener ahli. Tapi kita emang mencari-cari yang paling oke.

Maha Oke ya, Maha Oke?
Farid: Yadauw... Hehehe, sampe semuanya oke, mulai dari lirik, dari performance, brand sebuah band itu seperti apa, kita bener-bener mempelajarinya dari yang, yo.. umpamanya bener yang...

Dipikirkan masak-masak?
Farid: Ya...
Roby: Tapi intinya nothing to lose-lah, kita nggak pernah membicarakan kita akan main dimana, kenapa kita main disini, terus siapa aja yang main bareng kita, nggak. Maksudnya isu lokal yang berkembang di teritori ini seperti apa, kita luweh, anak-anak nggak pernah peduli.
Farid: Nah, nothing to lose-nya anak-anak itu seperti itu. Kita sebagai band tidak pernah berekspektasi apapun termasuk sampe mau jadi apa si band ini nanti. Makanya butuh waktu yang lama karena memang tidak ada rencana, sama sekali nothing to lose. Termasuk ke persoalan paradigma-paradigma yang dulu sempet ada di Jogja seperti soal Utara dan Selatan. Kita dibesarkan di Selatan, kemudian ternyata banyak orang yang mempersoalkan Utara dan Selatan, kemudian ada batasan yang membuat anak Utara susah ke Selatan dan anak Selatan ke Utara.
Roby: Kita malah ga ngerti ada yang gitu-gitu...

Itu malah bikin Jogja jadi nge-gap ga sih?
Farid: Banget! Kita waktu itu mengalami friksi yang amat dahsyat. Pertamanya nggak mikir akan ada hambatan yang seperti itu, sampe suatu hari kita main di Utara dan ternyata itu dipermasalahkan di Selatan. Nah, kita nggak tau sampe ada yang kayak gitu, kita nggak nganggep itu ada, dan pada akhirnya ternyata keputusan kita untuk kesitu nggak salah. Malah akan jadi salah ketika kita cuma diem disana dan terbatasi.

Balik lagi ke soal album kalian, apa sih sebenernya konsep dari album Manifesto ini?
Farid: Manifesto secara harfiah berarti pernyataan sikap yang lebih cenderung politis sebenernya, tapi kita memaknainya pernyataan sikap kita sebagai empat orang yang tergabung dalam sebuah band. Mungkin antara satu lagu dengan lagu yang lain bukan sesuatu yang terangkai dalam satu konsep yang cetho ya. Kita sepenuhnya ngomongin posmodernisme juga nggak, karena prosesnya emang lama banget, dan disitu ada grafik yang naik turun. Kita sedang mengalami apa, kita tulis, kita mainkan. Akhirnya dari situ, inilah manifesto kita sebagai band, manifestasinya adalah album ini. Nah, kalo ditanyain beritanya apa, itu tadi, posmodernisme itu yang pengen kita angkat. Walaupun itu sebenarnya hanya termaktub di satu lagu thok, Manifesto Posmodernisme. Satu bagian reff-nya bilang, tak ada yang baru di bawah matahari, terus.. kita cuma ngambil-ngambil apa yang pernah ada, kita merangkainya kembali, seperti itu. Kalo selebihnya kita merayakan tentang remeh-temeh apa yang kita alamin. Ngomongke kehidupan yang mendekati kematian di Mati Muda, ngomongke Tuhan yang di sana, Maha Oke. Ngomongin rutinitas kita bekerja, ngomongin panggung-panggung dimana kita dibesarkan, terus ngomongin hal-hal personal. Yah gitu...Lagu-lagu ini yang bahasa Inggris kebanyakan lagu-lagu awal, karena dulu saya merasa terbatas kapabilitasnya untuk menulis lirik bahasa Indonesia.

Tapi keren lho kalian menulis dalam lirik bahasa Indonesia, karena ada kecenderungan band-band indie lokal sekarang untuk menggunakan lirik bahasa Inggris.
Farid: Nah, itu salah satu berita yang pengin kita bawa juga. Jadi kenapa masih ada lagu-lagu dengan lirik berbahasa Inggris disini, itu karena kita tidak ingin menghilangkan proses yang kita alami juga. Mungkin kita bisa menulis sepuluh lagu dengan lirik berbahasa Indonesia semua, karena menurutku Mati Muda itu sangat berhasil. Tapi dalam prosesnya, kita sempat mengalami kalau lagu berbahasa Inggris itu ternyata keren untuk diucapkan, bisa berdengung-dengung tanpa harus ketahuan maknanya (sambil ketawa). Nah, makanya isinya yang di awal-awal itu lebih yang, oh.. Rob, tulung Rob.., hehehe...

Ada lagu yang proses penggarapannya menarik untuk diceritakan ga nih?
Roby: Mati Muda.
Farid: Mati Muda dari dia, dari dia baru ke saya (sambil ngguya-ngguyu ke Roby)
Roby: Tidak berusaha menghubung-hubungkan ini dengan pengalaman, cuma kebetulan aku wis tau hampir mati. Kecelakaan tho, waktu kakiku digips, kalo menurutku itu waktu dimana aku mengalami sebuah proses.. Selama ini kan kita sangat sulit menciptakan, ketoke angel banget, tidak semudah apa yang kita tau ternyata. Nah dari situ saat di-gips, kalo kejadian hampir mati kan biasanya sentimentil gitu, keluarnya aku langsung bilang sama Farid, lagunya ini judulnya Mati Muda.
Farid: Masih dalam bentuk komposisi waktu itu.
Roby: Ya intinya aku bilang sama Farid, lagu ini tidak untuk mengajak orang mati muda dalam pemikiran yang dangkal. Nah, hebatnya Farid kan dia bisa merangkai kata-kata. Itu akhirnya berproses, sampai Farid bisa mendefinisikan lagu itu dengan liriknya. Mulai.. ya, mulai berani kan...
Farid: Karena break-nya kan disitu.
Roby: Saat lagu ini kan kita semua mulai berani gitu. Mulai aku sing piye, Farid sing awalnya sentimentil, “jangan tinggalkan aku”, akhire sampai ke yang.. “saiki riil wae”.
Farid: Ya, ya... Kita mulai riil di Mati Muda. Saya mulai riil dari pertama saya, tapi kita semua di Jenny mulai riil di Mati Muda.
Roby: Mati Muda itu lagu keempat.
Farid: Jadi aku pertama kali mulai nulis lirik bahasa Indonesia di Mati Muda. Mulai memasukkan tulisanku ke dalam lagu... Jadi sebelumnya udah banyak nulis dalam bahasa Indonesia tapi belum berani untuk memasukkannya ke lagu. Nah, karena di lagu yang Mati Muda, komposisi udah ada, judulnya Mati Muda, masak aku nulis bahasa Inggris judulnya Young Dead gitu, kan lucu. Terus akhirnya dari situ yang bikin aku kok merasa lagu ini adalah lagu yang gifted buat kita. Kenapa tiba-tiba ada komposisi yang berjudul Mati Muda, kenapa tiba-tiba aku bisa nulis yang seperti ini. Terus jadi lagu, kita mainin, kok ternyata ada yang suka. Lagu ini juga mengantarkan kita kemana-mana, masuk ke Radit dan Jani, masuk kemana, kemana. Sekarang kalo temen-temen yang di luar sana ditanya: Jenny, ya Mati Muda. Makanya ini lagu yang sangat gifted, prosesnya sangat kita amini, hasilnya juga sangat represent apa yang udah kita lakukan. Habis itu kan aku jadi tau aku bisa menulis kayak yang Mati Muda, anak-anak juga jadi bisa lebih eksplor lagi. Jadi lebih bebas lagi dalam berkarya.

Last word buat temen-temen pembaca Playbook, guys?
Mungkin ini ya, jadi sebenernya akan lebih mulia, temen-temen itu akan jadi keren bangetlah kalo temen-temen menyukai, mengidolakan, melihat, sesuatu yang temen-temen dapatkan sendiri kekerenannya. Jadi dengan begitu, temen-temen benar-benar mengetahui apa yang temen-temen sukai, gitu...

Gosip Mbak Jenny:
*Jenny dulu pernah punya dua orang groopie berani mati, namanya Astrek dan Koncreng. Selama satu tahunan, dua orang cewek ini dengan setia selalu hadir di setiap gig Jenny. Mereka akan berjoget, bernyanyi dan menggila di barisan paling depan, bahkan saat di barisan depan hanya ada mereka. Wow! Denger-denger Jenny merasa kehilangan ketika mereka mulai tidak menampakkan diri. Hmm, diam-diam ternyata mereka inspiring buat Jenny. Buat Astrek dan Koncreng, kapan-kapan mampir ke gig-nya Jenny lagi ya...
*Jenny ternyata nggak senang kalo para fans hanya menyukai mereka dari attitude di atas panggung tanpa benar-benar memahami karya-karya mereka. Bener juga, ga sehat kan kalo kalian suka sama Jenny hanya karena mereka terlihat keren dengan jaket kulit dan gayanya yang urakan di atas panggung.
*Farid ternyata nggak bisa main kalo nggak bareng Roby, katanya kalo ga bareng Roby, “F****!!!”. Hehehe.. ada apa nih?

_

2009-05-24

jenny on DAB free music magazine vol 10

dab
Setelah kurang lebih enam tahun lompat dari panggung ke panggung, Jenny akhirnya merilis LP pertama mereka. Sebuah perjalanan dan penantian panjang ini menghasilkan sebuah “Manifesto”. Tidak hanya menjadi pembuktian namun lebih dari itu, “Manifesto” menjadi sebuah pernyataan sikap dari Jenny. Berikut sedikit percakapan DAB dengan Jenny mengenai LP perdana mereka, perjalanan panjang mereka, hingga pernyataan sikap mereka dalam “Manifesto”.

Ceritain sedikit dong tentang perjalanan Jenny..
Farid: Perjalanan berarti semacam kronologis gitu ya…awal mulanya dari kampus ISI Seni Rupa, rentang waktunya tengah ampe akhir 2003. Saya, Robi, beberapa adik kelas termasuk Arjuna cari-cari orang untuk bikin band buat ngisi malam keakraban tahun 2003. Terbentuk dengan nama Jenny bla-bla-bla tapi kebawa kesininya kita makenya nama Jenny.

Salah satu single kalian yang berjudul “Mati Muda” itu kalo ga salah pernah ada filmnya yang di-launching di Kinoki ya…bisa diceritain gimana akhirnya single itu bisa jadi sebuah film?
Robi: Jadi kasusnya ada kawan dari komunitas film yang tertarik membuat film bedasarkan lagu “Mati Muda”.
Farid: Jadi sebenernya trigger-nya itu anak-anak SMA yang mengapresiasi lagu itu, kebetulan dilihat sama temen kami. Dan hal ini menarik untuk diangkat menjadi sebuah film, ketertarikan itu disampaiin ke kami, gimana kalo kita bikin film berdasarkan lagu “Mati Muda”, yang akan dibuat oleh anak-anak SMA tersebut. Akhirnya kami ngobrol-ngobrol dan kemudian jadilah sebuah film yang berjudul “Aku Pernah Mati”. Kami sendiri benar-benar lepas dari proses kreatif mereka, lagu ini kami lepas dan silahkan untuk dikonsep. Sedangkan lagu “Mati Muda” ini juga dipake untuk film Radit dan Jani, yang berawal dari kebetulan. Teman kami ada yang membawa MP3 “Mati Muda” di flashdisk-nya dan kemudian didengar oleh teman-teman yang sedang berproses di film Radit dan Jani. Kemudian dibawa ke board yang lebih tinggi dan lagu ini masuk.

Antara rentang kemunculan “Mati Muda” tahun 2005 dan LP pertama kalian “Manifesto” yang baru rilis 2009 ini terbilang cukup lama, ada kendala atau pertimbangan tertentu?

Farid: Kalo rilisnya 12 Maret 2009 mungkin ya karena harus rilis tanggal tersebut klo kita pikir. Soalnya album ini kita buat tidak dalam rencana konsep yang tertulis dari awal yang seperti ini atau itu tapi lebih ke kita mengalami prosesnya dulu sampai selesai. Setelah kita rasa cukup prosesnya kita rilis album ini. Jadi memang bukan dalam suatu masterplan kita targetnya tahun ini atau tahun depan harus rilis tapi ternyata kami bisa rilisnya setelah 6 tahun. Sebenernya cukup klise, tadinya tahun 2008 kita maunya rilis tapi tenyata itu ga bisa.

Apa Jenny merasa harus ada proses pematangan diatas panggung sebelum akhirnya bisa dirilis? mengingat saat ini proses recording terbilang lebih “bersahabat” dibanding jaman dulu.
Robi: Kalo menurut kami memang secara tidak sengaja awal-awal kami lebih sering di panggung, tapi bukan karena itu juga. Kami lebih merasa bahwa kami kesulitan memilih lagu-lagu yang akan masuk di album ini. Kebetulan kami bukan orang-orang yang kesehariannya bergelut di dunia musik, dan kami memproses ini seperti membuat sesuatu yang sangat spesial padahal ini kan pilihan aja. Ada 20-an lagu yang harus kita pilih dan matengin sampai ga ada yang bisa kami matengin lagi.
Farid: Kalo di panggung, faktanya materi yang ada di LP ini pernah dimainin di panggung. Emang dari awal segala sesuatunya band ini tidak dalam rencana besar. Bukan dalam suatu masterplan harus seperti apa, sampe hal-hal yang detih seperti harus gede di panggung dulu atau apa. Tapi kenyataannya yang kami dapat dan kami syukuri sekarang adalah kami diasuh oleh panggung-panggung yang kami naiki. Satu panggung demi panggung kami alami sebagai sebuah proses. Lagu-lagu ini dilaunchingnya justru di panggung-panggung tersebut. Lagu yang ada di LP ini adalah lagu yang dibikin 2002 sampai 2009 tapi semuanya sudah pernah kami mainkan. Kita lihat responnya seperti apa. Kalo jelek kami tinggalin, kalo bagus kami hajar terus.
Robi: Ada hubungannya juga kenapa begitu lama karena muncul ini dan itu di beberapa part lagu itu. Kami mencoba bereksperimen walaupun tidak menakjubkan. Terkadang kami memilih eksperimen itu kami bawa ke panggung.
Farid: Iya, jadi lagunya prosesnya juga berlangsung di panggung. Dan kami bisa melihat antara perubahan yang kami buat dengan respon dari penonton. Secara materi seperti itu.
Robi: Ketika kami menambahkan suatu detil kemusikan sering kita uji coba di panggung. Seperti “Mati Muda” awalnya plain aja tapi kami tambahkan sesuatu yang berbeda.

Dengan perubahan-perubahan dengan eksperimen yang kalian lakukan apa tidak ada ketakutan kalo musik kalian akan bergeser secara cepat antara musik kalian yang sekarang dengan yang berikutnya? kalian sendiri melihat musik Jenny seperti apa?
Farid: Nah itu dia, yang kita dapet dari panggung itunya. Mungkin kalo kami merilis album dengan konsep yang bulat mungkin kami akan salah merumuskan musik kami. Dulu kami sempat yakin bahwa musik kami disemangati unsur punk, dance dan garage. Itu kami lihat di “Dance Song”. Tapi kesininya apa-apa yang kami amini dari awal semakin ada isinya tapi ada hal-hal yang berbeda dari yang awal kami mainkan. Akhirnya kami melebur kembali apa yang kami yakini sebelumnya, kami konstruksi lagi, hancurkan lagi dan dibangun lagi tapi masih dalam satu konsep besar musik yang kami namakan musik yang dimainkan Jenny itu. Antara sepuluh lagu ini akan dirasakan lagu-lagu tertentu akan mengarah kesini sedangkan yang lainnya ke arah yang lainnya, seperti itu.

Secara keselurahan apa yang ingin kalian bicarakan di LP kalian “Manifesto” ini?
Farid: Di awal munculnya “Mati Muda”, kami sempat dikorelasikan dengan salah satu lagu milik The Strokes. Segala kebetulan ini terbaca di masyarakat, tapi kami tidak berhenti disitu. Kami belajar banyak. Dan akhirnyan kami mendapatkan sebuah narai dalam lagu “Manifesto Postmodernisme”. Disitu ada sebuah ungkapan bahwa kita hidup di suatu era tidak ada lagi kebaruan, kita menghidupi hidup kita dengan hanya mengambil apa yang ada di sekeliling kita dan merangkainya kembali dengan kemampuan kita, dengan insting kita, dengan suatu apapun kita yang ingin kita bentuk. Secara konsep akhirnya “Manifesto Postmodernisme” yang membungkus semuanya, membungkus apa-apa yang telah kami lakukan. Bukan sebagai pembenaran tapi sebagai penguatan saja. Sedangkan Manifesto sendiri sebagai pernyataan sikap. Inilah enam tahun berjalannya band, manifestonya album ini. Dan ini utang selama ngeband.
Robi: Klo isi dari sepuluh lagu di LP ini lebih banyak berbicara hal remeh-temeh kehidupan saja. Mungkin remeh-temeh untuk orang lain tapi spesial untuk kami. Tapi secara penulisan meskipun remeh-temeh pemaknaannya tidak dangkal, dimana lirik bisa bercerita dengan cukup indah. Tapi sebenernya itu Cuma remeh-temeh saja,hahaha.

Membicarakan LP kalian belum lengkap rasanya kalo belum menyentuh sisi artwork-nya. Kalo artworknya sendiri terlihat cukup berbeda, bisa diceritain sedikit tentang artworknya?
Farid: Itu kebetulan yang bikin saya. Sebenernya tujuan dari artworknya menjauhkan band dari image-image band seperti kami kebanyakan. Jadi saya coba bikin yang menjauhkan dari image-image tipikal band-band seperti kami. Biarkan ini menjadi ikon buat kami.
Robi: Kami mencoba menghancurkan image Jenny dengan ikon itu, hahaha..
Farid: Ternyata sempet denger juga beberapa pendapat dari yang ngeliat ini…bahkan ada yang bertanya apa ini konsepnya hipnotising gitu ya, hahaha…Mungkin…

Dari perjalanan 6 tahun ini, bagaimana kalian melihat scene musik Jogja sendiri?
Farid: Tidak dipungkiri bahwa banyak sekali band Jogja yang keren dan berkualitas. Bahkan terlalu banyak menurut saya. Tapi menurut saya belum banyak yang bisa menjadi penanda besar. Dulu ada eranya Bangkutaman, lalu The Monophones juga hampir menjadi penanda besar. Akhirnya sekarang terbilang sedikit yang bisa menjadi penanda besar dan kurang bisa mewakili ke-Jogjaan-nya. Menurut saya.
Robi: Mungkin wadahnya terbilang kurang, banyak band-band baru yang ingin bermain di panggung tapi terkesan tidak diberi ruang oleh beberapa penyelenggara. Tapi akhir-akhir ini justru club-club mulai membuka diri untuk band-band cutting edge.

Ok, terimakasih banget buat interviewnya. Ada pesen khusus buat pembaca DAB?
Farid: Mungkin kalo sebagai band ya “Manifesto” ini pernyataan kami..
Robi: Dan hindari narkoba tentunya, hahaha….Tetap maju musik Indonesia, hahaha….